Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan program rumah susun sederhana milik (rusunami) bagi generasi muda sebagai langkah strategis menjawab kebutuhan hunian di tengah pesatnya perkembangan kota. Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kota yang inklusif dan berkeadilan sosial.
Di tengah transformasi menuju kota global, Surabaya menghadapi tantangan klasik urbanisasi, yakni meningkatnya kebutuhan hunian layak yang tidak selalu sebanding dengan kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya generasi muda. Program rusunami ini diharapkan menjadi solusi konkret agar generasi produktif tetap dapat tinggal dan berkembang di kota sendiri.
Pengajar psikologi komunikasi, M. Isa Ansori, menilai fenomena keterbatasan akses hunian bagi generasi muda kini menjadi isu di berbagai kota besar. Ia melihat bahwa banyak anak muda berperan sebagai penggerak ekonomi kota, namun belum memiliki akses memadai terhadap hunian yang layak.
Menurut Isa, kebijakan rusunami untuk Gen Z mencerminkan pendekatan pembangunan yang tidak semata-mata berorientasi pada ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial. Program ini dinilai mampu membuka peluang kepemilikan hunian di tengah keterbatasan lahan serta dinamika ekonomi perkotaan.
Langkah tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan yang diusung Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan akses bagi masyarakat. Dalam kerangka ini, rusunami menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan kota yang layak huni bagi seluruh lapisan warga.
Lebih dari sekadar hunian vertikal, rusunami diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan manusia. Program ini terintegrasi dengan skema yang lebih luas, mulai dari rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah hingga akses pendidikan dan peningkatan kapasitas ekonomi keluarga.
Pendekatan berkelanjutan tersebut dinilai mampu menciptakan siklus pembangunan yang saling terhubung, di mana hunian menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya menyasar kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi masa depan.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sejumlah faktor kunci, seperti ketepatan sasaran penerima, lokasi strategis, serta konektivitas dengan pusat aktivitas ekonomi. Perencanaan yang matang dan implementasi berkelanjutan menjadi penentu agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Dalam konteks pembangunan kota global, Surabaya tidak hanya dituntut menghadirkan infrastruktur fisik yang modern, tetapi juga memastikan warganya memiliki akses terhadap ruang hidup yang layak. Program rusunami untuk generasi muda menjadi simbol arah pembangunan yang semakin inklusif, di mana pertumbuhan kota berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jika dijalankan secara konsisten, kebijakan ini berpotensi menjadi model transformasi pembangunan perkotaan, menggeser fokus dari sekadar ekspansi fisik menuju pemerataan akses dan kualitas hidup. Dengan langkah tersebut, Surabaya menegaskan posisinya sebagai kota global yang tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga ramah untuk ditinggali oleh semua kalangan. (tas)

