Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Surabaya Perkuat Kolaborasi dari Tingkat Keluarga hingga Lingkungan RT
  • Kalahkan Ratusan Startup Dunia, SPYRAGO UNAIR Bawa Pulang Penghargaan Sustainability dan Pendanaan Internasional
  • Jawa Timur Raih Penghargaan Kemendagri atas Penurunan Pengangguran, Bukti Efektivitas Link and Match Pendidikan dan Industri
  • Khofifah Paparkan Kekuatan Ekosistem Halal Jawa Timur, Siap Perluas Daya Saing ke Pasar Global
  • BEI Gandeng Maskapai Nasional, Dorong Awak Penerbangan Melek Investasi dan Pasar Modal
  • Dishub Evaluasi Sopir Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, Siapkan Sistem Penilaian Penumpang
  • Cegah Manipulasi Domisili Saat SPMB 2026/2027, Pemkot Surabaya Optimalkan Verifikasi melalui Cek In Warga
  • Pemkot Surabaya dan Komdigi Uji Coba Perlinsos Digital, Dorong Penyaluran Bansos Lebih Tepat Sasaran
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PROFIL»Penerima KIP Bekerja Mencuci Bus

Penerima KIP Bekerja Mencuci Bus

PROFIL redaksi11/10/2017 - 13:00 WIB

Dari jutaan siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP), tersimpan jutaan kisah yang tak banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah kisah Habiatul Hidayatullah, penerima KIP dari Kota Cilegon, Banten, yang mencari nafkah dengan mencuci bus di terminal dan menjadi juru parkir.

Setelah tamat dari SMP, Habiatul memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke pendidikan kesetaraan dengan mengambil Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melati Cibeber, Cilegon. “Karena ekonomi keluarga saya tidak memadai untuk masuk ke SMA,” tuturnya.

Penyuka sepak bola itu lulus dari SMP Al-Ishlah Cilegon pada tahun 2015. Saat itu ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena sadar akan keterbatasan ekonomi keluarganya. Ayah Habiatul seorang buruh pabrik yang penghasilannya tidak seberapa, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh sawah. “Dari saya juga ada rasa ingin putus sekolah,” kata Habiatul.

Mengetahui niat Habiatul itu, sang kakak yang seorang pengajar di PKBM, menganjurkannya untuk melanjutkan pendidikan dengan mengambil Paket C di PKBM tempatnya mengajar. “Jadi kakak saya yang ngurusin semuanya. Saya tinggal masuk aja,” ujar Habiatul yang tahun depan akan menghadapi ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) itu.

Belajar di PKBM memang berbeda dengan sistem belajar mengajar di sekolah reguler. Habiatul menjelaskan, teman-temannya di PKBM sebagian besar memang sudah bekerja, sehingga mereka hanya belajar di PKBM seminggu sekali, yakni pada hari Sabtu atau Minggu. “Kalau saya ambil yang hari Sabtu,” kata anak bungsu itu.

Lalu apa yang dilakukan Habiatul di hari Senin hingga Jumat? “Saya mencuci bus di terminal, atau jadi tukang parkir,” ujarnya lugas. Tanpa menyebutkan berapa penghasilannya, ia mengaku uang yang diterimanya cukup untuk jajan dan membantu kedua orang tuanya.

Habiatul yang baru tahun ini terdaftar sebagai penerima KIP, berniat memberikan dana KIP yang diterimanya kepada orang tua. “Uangnya buat Ibu,” tuturnya. Sebagai penerima KIP dari jenjang pendidikan setara SMA/SMK, Habiatul berhak atas bantuan pendidikan sebesar Rp 1 juta/tahun dari pemerintah Indonesia.

Habiatul sadar, keterbatasan ekonomi yang dimilikinya tidak boleh menghalanginya untuk bersekolah dan bercita-cita. Karena itulah, sambil bekerja, iapun tetap giat melanjutkan pendidikannya di PKBM.

Ditanya mengenai cita-citanya, penyuka pelajaran IPA itu tidak menjawab secara spesifik mengenai bidang atau profesi apa yang menjadi cita-citanya. “Yang jelas saya ingin jadi orang sukses,” katanya tegas. Semoga sukses, Habiatul. Jadilah orang sukses yang berbakti kepada orang tua dan negara. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Khofifah Raih Penghargaan Nasional CSR Desa Berkelanjutan 2026, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Desa Mandiri

25/04/2026 - 10:10 WIB

Formula 1 Resmi Kembali ke Istanbul Park Mulai 2027, Kontrak Lima Tahun Perkuat Ekspansi Global

24/04/2026 - 20:23 WIB

Dedikasi Amelia Febriani, Alumni UNAIR yang Bersinar di Kancah Global Lewat Inovasi Pendidikan Berbasis Empati

08/04/2026 - 21:16 WIB

Perjalanan Inspiratif Alumni FK Unair di Gaza

06/11/2025 - 13:00 WIB

Mahasiswi Unair jadi Ning Surabaya 2025

15/10/2025 - 12:00 WIB

Jalani Fast Track Alissa Raih Dua Gelar

07/10/2025 - 12:00 WIB

Comments are closed.

Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Surabaya Perkuat Kolaborasi dari Tingkat Keluarga hingga Lingkungan RT

05/06/2026 - 14:29 WIB

Kalahkan Ratusan Startup Dunia, SPYRAGO UNAIR Bawa Pulang Penghargaan Sustainability dan Pendanaan Internasional

05/06/2026 - 14:20 WIB

Jawa Timur Raih Penghargaan Kemendagri atas Penurunan Pengangguran, Bukti Efektivitas Link and Match Pendidikan dan Industri

05/06/2026 - 14:02 WIB

Khofifah Paparkan Kekuatan Ekosistem Halal Jawa Timur, Siap Perluas Daya Saing ke Pasar Global

05/06/2026 - 13:53 WIB

BEI Gandeng Maskapai Nasional, Dorong Awak Penerbangan Melek Investasi dan Pasar Modal

05/06/2026 - 13:39 WIB

Dishub Evaluasi Sopir Suroboyo Bus dan Wira-Wiri, Siapkan Sistem Penilaian Penumpang

04/06/2026 - 19:07 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.