Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Jejak Bung Karno di Kota Pahlawan, Surabaya Hadirkan Pameran “Aku Arek Suroboyo” dan Luncurkan Buku Sejarah
  • Pemkot Surabaya Imbau Warga Perbarui Data Aset untuk Perlinsos Digital
  • Kiprah Alumnus FKM Menjaga Asa Masyarakat, Menggapai Ilmu Lintas Negara
  • Gubernur Khofifah Pantau Langsung Proses Verifikasi SPMB di Madiun, Pastikan Verifikasi Terjadwal, Perlancar Proses Pengambilan PIN SPMB Tahun 2026
  • Surabaya Jadi Percontohan Nasional, Program Indonesia–Norwegia Angkat Satu Ton Sampah Plastik dari Sungai Setiap Hari
  • Perekaman KTP Elektronik Tembus 99,68 Persen, Surabaya Percepat Transformasi Digital
  • Peringati Hari Lingkungan Hidup, Pakar UNAIR Serukan Aksi Iklim Nyata
  • Surabaya Jalankan Pilot Project Perlinsos Digital, Libatkan Lebih dari 12 Ribu Agen Pendamping
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PROFIL»Prof Bagong: Utamakan Pendidikan Etika

Prof Bagong: Utamakan Pendidikan Etika

PROFIL redaksi13/02/2018 - 16:00 WIB

Kasus penganiayaan yang dilakukan oleh siswa terhadap salah satu guru di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, menuai perhatian banyak orang. Begitu juga perhatian dari para ahli di dunia akademisi. Untuk menanggapi kasus itu, Unair News menemui salah satu Guru Besar yang dimiliki Universitas Airlangga. Ialah Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi.

Saat ditemui di Departemen Sosiologi Unair pekan lalu, Prof Bagong menerangkan berbagai pengamatannya mengenai kekerasan di kalangan anak-anak. Menurutnya, kenakalan yang dilakukan anak-anak usia sekolah tidak lepas dari upaya anak-anak itu sendiri dalam membangun reputasi melalui kekerasan.

“Di kalangan anak-anak itu ada yang namanya subkultur sok jagoan. Subkultur itu jadi identitas sosialnya. Jadi, kalau dia mau diterima dalam sebuah kelompok dan dihormati dalam kelompok itu, maka yang dilakukan adalah menunjukkan kekuatannya,” terang Prof Bagong.

Lain dengan hal itu, tambah Prof Bagong, bagi anak-anak yang memiliki reputasi akademik yang bagus akan cenderung membangun reputasi dari prestasi akademik. Tapi anak-anak marjinal yang tidak dalam kategori berprestasi dalam hal akademik biasanya cenderung membangun reputasi dengan membangun subkultur kekerasan.

“Nah, anak-anak pada subkultur kekerasan ini yang kemudian menjadi pelaku bullying, sok jagoan, suka memalak temannya sendiri, dan bahkan meresahkan guru,” tandasnya.

Berkenaan dengan peran sekolah, Prof Bagong menegaskan bahwa sekolah di Indonesia masih kurang mampu membangun karakter yang baik pada siswa. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan yang memaksakan antarsiswa untuk berkompetisi dan bersaing menjadi yang terbaik.

“Hal ini menjadikan nilai-nilai solidaritas, sopan santun, kohesi sosial itu tidak ditumbuhkan dengan baik. Di kepalanya itu tidak tumbuh konstruksi bahwa siswa harus menghormati guru, solider, dan toleransinya harus tinggi,” papar Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi FISIP Unair ini.

Pada akhir, saat ditanya mengenai upaya untuk mencegah munculnya persoalan yang terjadi di SMAN 1 Torjun, Prof Bagong menjawab bahwa diperlukan upaya untuk mengubah sistem yang diterapkan dunia pendidikan.

“Menurut saya harus ada perubahan grand design-nya pendidikan itu. Kuncinya, ya diajari toleran, menghargai perbedaan diantara sesama, supaya selain mencegah subkultur kekerasan tidak jadi kasus-kasus bullying dan hilangnya etika terhadap guru tidak terulang lagi,” pungkasnya. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Khofifah Raih Penghargaan Nasional CSR Desa Berkelanjutan 2026, Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Desa Mandiri

25/04/2026 - 10:10 WIB

Formula 1 Resmi Kembali ke Istanbul Park Mulai 2027, Kontrak Lima Tahun Perkuat Ekspansi Global

24/04/2026 - 20:23 WIB

Dedikasi Amelia Febriani, Alumni UNAIR yang Bersinar di Kancah Global Lewat Inovasi Pendidikan Berbasis Empati

08/04/2026 - 21:16 WIB

Perjalanan Inspiratif Alumni FK Unair di Gaza

06/11/2025 - 13:00 WIB

Mahasiswi Unair jadi Ning Surabaya 2025

15/10/2025 - 12:00 WIB

Jalani Fast Track Alissa Raih Dua Gelar

07/10/2025 - 12:00 WIB

Comments are closed.

Jejak Bung Karno di Kota Pahlawan, Surabaya Hadirkan Pameran “Aku Arek Suroboyo” dan Luncurkan Buku Sejarah

07/06/2026 - 18:20 WIB

Pemkot Surabaya Imbau Warga Perbarui Data Aset untuk Perlinsos Digital

07/06/2026 - 18:09 WIB

Kiprah Alumnus FKM Menjaga Asa Masyarakat, Menggapai Ilmu Lintas Negara

07/06/2026 - 17:50 WIB

Gubernur Khofifah Pantau Langsung Proses Verifikasi SPMB di Madiun, Pastikan Verifikasi Terjadwal, Perlancar Proses Pengambilan PIN SPMB Tahun 2026

07/06/2026 - 17:45 WIB

Surabaya Jadi Percontohan Nasional, Program Indonesia–Norwegia Angkat Satu Ton Sampah Plastik dari Sungai Setiap Hari

06/06/2026 - 12:27 WIB

Perekaman KTP Elektronik Tembus 99,68 Persen, Surabaya Percepat Transformasi Digital

06/06/2026 - 12:14 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.